8 – 9 – 2011

Mimpi buruk, sangat sangat buruk. Dia yang masih menginginkan mantannya, tetap menangis dan berlari kepadanya yg uda ninggalin dia, bkn kepada ku yg ada dsampingnya. Sakit, dan aku terbangun seketika. 12.06am. Aku tidur lg, sebuah telpon masuk, ku angkat dan langsung ditutup oleh penelepon. Sekitar jam 03.00am, sebuah mimpi buruk lg. Samar, aku cuma bisa inget utk sekitar 10 detik, dan terlupakan lg. Kembali, aku jatuhkan kepala ku ke atas bantal.

Pagi ini seperti hari-hari kemarin, aku dibangunin oleh (hope)-my-next-GF, someone yg ku sayang, bukan oleh ke-5 alarm ku yg suaranya super duper berisik, at 5 o’clock. Sebuah panggilan masuk ke hp ku dgn nada dering Yolanda Be Cool and Dcup – We No Speak Americano, ku angkat, dan terdengar sebuah suara imut dari sana.

“hallo, assalammualaikum..”

“wa’allaikumsalam..” kataku, masi mengantuk. “kamu tetep ada buat ku kan? Please jangan ngilang…”

“gkan ngilang koq, gede gini. Hahaha.” Khas dia, jawaban sambil bercanda. “knp km?”

“heu. 2x mimpi buruk. Sangat buruk.”

“aku jg mimpi buruk. Km mimpi apa emangnya?”

“tentang kamu ama evan. Kamu menangis dan km berlari ke dia, melihatku yg ada disamping km sebelumnya, dan melanjutkan lari ke dia yg sama sekali ga menoleh ke arah km.”

“oh. Yg satunya lg apa?”

“entahlah, aku lupa.” “km mimpi apa?”

“tentang temen2. Gitu dh.”

“oh.” jawabku, males bertanya akibat mimpi yg ku alami.

“shallat dulu gih.”

“iya.”

Selesai shallat, kita kembali telpon2an, membicarakan rencana yg uda dibuat kemarin untuk bermain hari ini. Sore, sekitar jam 4, aku dateng ke rumahnya. Krn anak2 jg ngajak maen sebelumnya, kita nunggu kabar yg akhirnya kurang jelas. Ahahaha.

Jam 6, kita berangkat dan aku shallat di masjid dekat rumah Lia, salah satu tmn SMP kami jg. Dari sana kita pergi ke cartil, dgn pengalaman yg aneh.. motor ga kuat nanjak dan dia terpaksa jln kaki sedikit (maafkaaan. Hahaha). Kita duduk di sebuah warung, minum cappuccino anget, melihat indahnya cahaya malam kota bandung.

Jam 9, kita turun, tp aku masih ingin melihat kota bandung ini. Kita berhenti di pinggir jalan dan sekali lg melihat indahnya pemandangan tersebut. Tenggelam dalam suasana malam, ku peluk dia. Somehow, dia, seorang tipe cewe yg ga suka ngeliat orang saat lg ngobrol, sempat bertatap muka dgn ku. Entah apa yg kupikirkan, dgn jarak diantara kita yg hanya sekitar 10-15cm, tanpa pikir panjang, I kissed her soft lips.

“ga suka.” Bisiknya, dan malam yg hening membuat bisikan tersebut terdengar jelas. Dia berbalik, membelakangi ku.

“sen, yu pulang.” Kalimat dingin, terdengar sangat sangat tidak ingin berada di tempat itu lg.

“yu.” Jawab ku, singkat.

Kaget, itu yg ku rasakan. My 1st kiss ku berikan kpd seseorang yg ku sayang, yg ku tau klo sebenarnya dia belum menyayangi ku. Dan dari raut muka nya, ku liat ekspresi kaget, kaget yg melebihi apa yg kurasakan.

Kita naik motor, berkendara pulang tanpa sepatah kata pun terucap dari bibir kita masing-masing. Hanya motor yg berbicara melalui knalpot nya, dan dinginnya padasuka di malam hari menusuk kami. Sebelum sampai ke rumahnya, dgn jarak skitar 10meter dari rumahnya, dibawah cahaya yg seadanya, aku berhenti. Dia turun dari motor ku, mungkin mengira klo aku gakan nganter dia ke depan rumahnya. Aku berhenti dan jujur bilang padanya,

“yg tadi itu.. that was my first..”, terbata-bata, aku gugup.

“…”

“… naik dulu, aku anter ke depan rumah.”

Di depan rumahnya, dia turun, melepas helmnya. Disinari lampu dari rumah-rumah di sekitar kami, ku liat matanya yg berkaca-kaca, bekas aliran air mata di pipinya yg bulat, hidung dan pipi yg kemerahan, bibir yg berwarna merah jambu. I felt so guilty. But I know, selama di keheningan perjalanan pulang kami, aku berpikir knp aku melakukan itu. Nafsu belaka kah? Kesempatan bodoh yg muncul? Yah, semuanya bener, but nope, bkn itu, ga se-simple itu. Aku sadar, aku melakukannya krn aku punya sebuah perasaan yg sangat amat beda untuk dia. Perasaan ingin memiliki, yg dgn bodohnya aku biarkan diri ku tenggelam dlm perasaan itu dan berujung dgn kulemparkan sebuah ciuman ke bibirnya.

Bsk, aku yakin dia akan mungkin-cuma-sedikit berbeda kepada ku. Entahlah. Melihat ekspresi nya, aku ngerti, dia perlu pemikiran yg dalam. Sangat matang. Untuk melanjutkan berkomunikasi dgn ku atau menghentikan kontak kita seketika.

Just one kiss, less than 1 second, my first kiss, to the one I loved whom just like me, not yet loved me, and shake me until I wrote this.